Menganalisis dan Menelaah Orang Kebumen Menurut Letak Geografis

Posted: Maret 15, 2011 in Uncategorized

Kabupaten Kebumen secara administratif terdiri dari 26 kecamatan dengan luas wilayah sebesar 128.111,50 Ha atau 1.281,115 Km2, dengan kondisi beberapa wilayah merupakan daerah pantai dan pegunungan,sedangkan sebagian besar merupakan dataran rendah.

Dari luas wilayah Kabupaten Kebumen, pada tahun 2007 tercatat 39.768,00 hektar atau sekitar 31,04% sebagai lahan sawah dan 88.343,50 hektar atau 68,96% sebagai lahan kering. Menurut penggunaannya, sebagian besar lahan sawah beririgasi teknis (46,20%) dan hampir seluruhnya dapat ditanami dua kali dalam setahun, sebagian lagi berupa sawah tadah hujan (33,71%) yang di beberapa tempat dapat ditanami dua kali dalam setahun, serta 20,09% lahan sawah beririgasi setengah teknis dan sederhana.

Sedangkan lahan kering digunakan untuk bangunan seluas 35.985,00 hektar (40,73%), tegalan/kebun seluas 28.777,00 hektar (32,57%) serta hutan negara seluas 16.861,00 hektar (19,09%) dan sisanya digunakan untuk padang penggembalaan, tambak, kolam, tanaman kayu-kayuan, serta lahan yang sementara tidak diusahakan dan tanah lainnya. Menurut letak geografis, Kebumen terletak di 7o271 - 7o501 Lintang Selatan dan 109o331 – 109o501 Bujur Timur.

 

Nama Kebumen konon berasal dari kabumian yang berarti sebagai tempat tinggal Kyai Bumi setelah dijadikan daerah pelarian Pangeran Bumidirja atau Pangeran Mangkubumi dari Mataram pada 26 Juni 1677, saat berkuasanya Sunan Amangkurat I. Sebelumnya, daerah ini sempat tercatat dalam peta sejarah nasional sebagai salah satu tonggak patriotik dalam penyerbuan prajurit Mataram di zaman Sultan Agung ke benteng pertahanan Belanda di Batavia. Saat itu Kebumen masih bernama Panjer.

Salah seorang cicit Pangeran Senopati yaitu Bagus Bodronolo yang dilahirkan di Desa Karanglo, Panjer, atas permintaan Ki Suwarno, utusan Mataram yang bertugas sebagai petugas pengadaan logistik, berhasil mengumpulkan bahan pangan dari rakyat di daerah ini dengan jalan membeli. Keberhasilan membuat lumbung padi yang besar artinya bagi prajurit Mataram, sebagai penghargaan Sultan Agung, Ki Suwarno kemudian diangkat menjadi Bupati Panjer, sedangkan Bagus Bodronolo ikut dikirim ke Batavia sebagai prajurit pengawal pangan.

Adapun selain daripada tokoh di atas, ada seorang tokoh legendaris pula dengan nama Joko Sangrib, ia adalah putra Pangeran Puger/Paku Buwono I dari Mataram, dimana ibu Joko Sangrib masih adik ipar dari Demang Honggoyudo di Kuthawinangun. Setelah dewasa ia memiliki nama Tumenggung Honggowongso, ia bersama Pangeran Wijil dan Tumenggung Yosodipuro I berhasil memindahkan keraton Kartosuro ke kota Surakarta sekarang ini. Pada kesempatan lain ia juga berhasil memadamkan pemberontakan yang ada di daerah Banyumas, karena jasanya kemudian oleh Keraton Surakarta ia diangkat dengan gelar Tumenggung Arungbinang I, sesuai nama wasiat pemberian ayahandanya. Dalam Babad Kebumen keluaran Patih Yogyakarta, banyak nama di daerah Kebumen adalah berkat usulannya.

Di dalam Babad Mataram disebutkan pula Tumenggung Arungbinang I berperan dalam perang Mataram/Perang Pangeran Mangkubumi, saat itu ia bertugas sebagai Panglima Prajurit Dalam di Karaton Surakarta. Di dalam perang tersebut hal yang tidak masuk akal adalah ia tidak menyerah ke Pangeran Mangkubumi,yang seharusnya berpihak ke Pangeran Mangkubumi karena beliau termasuk putra Paku Buwono I/ Pangeran Puger. Ternyata ia bertugas sebagai mata2 penghubung antara pihak Kraton Surakarta dengan Pengeran Mangkubumi, pada tiap2 waktu ia sabagai utusan Kraton Surakarta untuk membawakan biaya perang kepada Pangeran Mangkubumi. Cara membawa biaya perang tersebut yang dalam bentuk emas dan berlian yang dimasukkan di dalam sebuah Kendang besar, tidak ada satupun yang tahu, baik Belanda,para punggawa Kraton Solo maupun para prajurit pihak Pangeran Mangkubumi sendiri. Cara membawanya dengan diselempangkan di belakang badannya sambil naik naik kuda, begitu berhasil menembus posisi yang dekat dengan Pangeran Mangkubumi maka dengan cepatnya Kendang tersebut ditaruh di dekat Pangeran Mangkubumi, kemudian pergi lagi. Demikian pada tiap2 waktu Arungbinang melaksanakan misi rahasia tersebut, sehingga perang Pangeran Mangkubumi mendapatkan biaya, bahkan peperangan ini ada yang menyebutkan sebagai perang Kendang. Tampaknya alasan inilah yang membuat posisi Arungbinang sebagai utusan rahasia. Tugas seperti itu dilakukan berulangkali.

Wong Bumen, yang berarti Orang Kebumen. Para perantau yang berasal dari Kebumen, sebuah kota kecil di pantai selatan Jawa Tengah, sering menyebut diri mereka wong bumen. Perantau dari Kebumen di daerah Jabodetabek merupakan perantau terbanyak kedua setelah Banyumas.

 

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi UI diketahui bahwa provinsi Jawa Tengah menempati urutan pertama sebagai daerah asal migran (perantau) di Jabodetabek, kemudian disusul provinsi Jawa Barat, dan Jawa Timur. Selain itu, diperoleh fakta bahwa perantau dari Jawa Tengah didominasi oleh perantau yang berasal dari Banyumas, Kebumen, dan Cilacap. Wow…KEBUMEN menjadi kabupaten asal migran terbanyak kedua di Jabodetabek. Maka jangan heran jika anda menemui orang-orang jakarta yang ternyata banyak berasal dari Kebumen.ckck…dunia begitu sempit.

Lalu apa tujuan wong bumen di Jabodetabek? apakah hanya mengadu nasib dengan bekerja sebagai karyawan atau buruh? mungkin sebagian besar iya, hampir 60%. Namun, fakta menunjukan bahwa perantau Kebumen (wong bumen) banyak mendominasi di bidang lain. Misalkan wong bumen yang melanjutkan ke jenjang Perguruan Tinggi di daerah Jabodetabek juga banyak. Disini dapat ditunjukan dengan banyaknya mahasiswa yang berasal dari Kabupaten Kebumen yang kuliah di PTN sekelas UI (Perhimak-UI) tiap tahun jumlahnya bertambah hingga mencapai angka mendekati 300-an, ini merupakan jumlah angka yang patut dibanggakan, mengingat dari waktu ke waktu 70% mahasiswa UI berasal dari sekolah-sekolah ungulan di Jabodetabek. Perguruan tinggi lain mungkin STAN, STIS, IPB, dan lain sebagainya.

Lalu apa yang membuat wong Bumen betah? dan apa yang mendasari mereka merantau? Menurut sosiolog menyimpulkan bahwa perantau dari Jawa tengah seperti halnya Kabupaten Kebumen umumnya mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya, atau lingkungannya bisa menerima dengan baik karena kemandiriannya, serta sikap jati dirinya yang mau bergotong royong membantu sesama. Selain itu kekeluargaan dengan sesama wong bumen begitu erat sehingga merasa di kampung sendiri. Mereka selalu menjalin silaturahim dengan orang-orang asal kampungnya atau saling mengunjungi ketika ada yang sakit atau bahkan terkena musibah dan mengunjungi acara keluarga seperti hajatan.

 

 

 

Resensi : http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kebumen

 

http://kebumenkab.go.id/

 

Komentar
  1. ahmad nurohman mengatakan:

    jayalah kebumen!!!!!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s