SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

Posted: Oktober 6, 2013 in Uncategorized

 

SISTEM

Sistem adalah kumpulan elemen-elemen yang terintegrasi dan berinterakasi untuk mencapai tujuan tertentu. Di dalam sistem terdapat suatu proses interaksi antara perangkat lunak dan perangkat keras yang akan menghasilkan informasi yang dapat digunakan.
Sistem juga merupakan manajerial dari sebuah organisasi yang mengatur dan menjalankan roda organisasi sehingga ada keteraturan yang baik didalamnya agar tidak terjadi bentrok antara elemen-elemen pembentuk sistem didalamnya.
Sistem memilki beberapa karakteristik, diantaranya :
1. Komponen (elemen)
Komponen dari suatu sistem dikenal sebagai subsistem, dimana subsistem merupakan sistem didalam suatu sistem yang memiliki fungsi sendiri namun terintegrasi dengan sistem lainnya.
2. Boundary
Merupakan batasan antar sistem satu dan sistem lainnya dengan lingkungan luar.
3. Environtment
Merupakan segala sesuatu yang berada diluar sistem yang mempengeruhi operasi dalam sistem.
4. Interface
Merupakan media penghbung antara subsistem dengan subsistem lainnya.
5. Input
Merupakan data yang dimasukan kedalam proses sistem.
6. Output
Merupakan hasil yang dikeluarkan dari proses sistem, dimana didalamnya terdapat keluaran yang berguna (misalnya informasi) maupun yang tidak berguna (misalnya limbah).
7. Sasaran sistem (objective)
Merupakan sasaran atau tujuan yang ingin dicapai oleh suatu sistem.

 

Sistem memilki beberapa karakteristik, diantaranya :
1. Komponen (elemen)
Komponen dari suatu sistem dikenal sebagai subsistem, dimana subsistem merupakan sistem didalam suatu sistem yang memiliki fungsi sendiri namun terintegrasi dengan sistem lainnya.
2. Boundary
Merupakan batasan antar sistem satu dan sistem lainnya dengan lingkungan luar.
3. Environtment
Merupakan segala sesuatu yang berada diluar sistem yang mempengeruhi operasi dalam sistem.
4. Interface
Merupakan media penghbung antara subsistem dengan subsistem lainnya.
5. Input
Merupakan data yang dimasukan kedalam proses sistem.
6. Output
Merupakan hasil yang dikeluarkan dari proses sistem, dimana didalamnya terdapat keluaran yang berguna (misalnya informasi) maupun yang tidak berguna (misalnya limbah).
7. Sasaran sistem (objective)
Merupakan sasaran atau tujuan yang ingin dicapai oleh suatu sistem.
Sistem diklasifikasikan kedalam beberapa jenis diantaranya :
1. Sistem Abstrak
sistem yg berisi gagasan atau konsep
contoh : sistem teologi
2. Sistem Fisik
sistem yg secara fisik dapat dilihat
contoh : sistem komputer, sistem transportasi
3. Sistem Deterministik
sistem yg operasinya dapat diprediksi secara tepat
contoh : program komputer
4. Sistem Probabilistik
sistem yg tidak bisa diramal dgn pasti karena mengandung unsur probabilitas
contoh : arisan, stok barang
5. Sistem Tertutup
sistem mandiri, sistem yg tidak bertukar materi, informasi, atau energi dgn lingkungan(tidak dipengaruhi oleh lingkungan)
contoh : reaksi kimia dlm sebuah tabung tertutup
6. Sistem Terbuka
sistem yg berhubungan dgn lingkungan dan dipengaruhi oleh lingkungan
contoh :sistem keorganisasian, sistem penawaran
7. Sistem alamiah
sistem yg terjadi karena alam (tidak dibuat oleh manusia)
contoh : sistem tata surya
8. Sistem buatan manusia
sistem yg dibuat oleh manusia

 

Didalam sebuah sistem besar tentunya terdiri dari beberapa subsistem yang terintegrasi dengan baik. Subsistem dibentuk dari beberapa cara yaitu :
1. Factoring (pengunsuran)
Cara ini bertujuan untuk membentuk struktur yang kompleks agar dapat dianalisa secara rinci.
2. Simplikasi atau penyederhanaan
Cara ini bertujuan untuk menyederhanakan banyaknya interface yang muncul dari sistem itu sendiri.
3. Decoupling (pemisahan)
Dua subsistem yg berhubungan sangat erat membutuhkan suatu koordinasi & penjadwalan waktu yg ketat. pemecahannya adalah dgn memisahkan atau mengendorkan. hubungan tersebut sehingga kedua sistem dapat beroperasi sejenak secara bebas.

 

Sistem yang baik seharusnya memiliki sebuah pengendalian sistem, dimana hal ini diwujudkan dengan menggunakan umpan balik (feedback), hal ini dilakukan agar sistem berjalan sesuai tujuan. Caranya adalah dengan membandingkan keluaran sistem dengan keluaran yang diharapkan.

 

INFORMASI

 

Informasi adalah kumpulan pesan yang memiliki makna yang dapat diolah sebagai dasar pengambilan tindakan. Sebuah informasi harus ditempatkan pada suatu konteks permasalahan tertentu yang sesuai. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kerancuan dalam pengolahan tiap-tiap informasi.
Informasi memiliki beberapa karakteristik yang bisa dijadikan indikator baik atau tidaknya informasi tersebut :
1. Relevan
Artinya terdapat kesesuaian antara kebutuhan informasi dengan ketersediaan informasi.
2. Tepat waktu
Penting bagi tiap penerima informasi menerimanya secara tepat waktu, karena terlambatnya suatu informasi akan sangat mengurangi nilai dari informasi tersebut.
3. Akurat
Informasi akan sangat bernilai bila bebas dari kesalahan-kesalahan yang bisa menyesatkan, sehingga maksud dari penggunaan informasi itu akan menjadi jelas.
4. Mengurangi ketidakpastian
Sebuah informasi hadir untuk mengurangi ketidakpastian sehingga dapat memperkuat fakta.
5. Mengandung elemen yang baru
Informasi akan sangat bernilai ketika terdapat elemen-elemen baru, sehingga dapat tercipta suatu improvisasi dan inovasi.

 

Berikut ini adalah metode pengumpulan Informasi :
1. Pengamatan langsung
2. Wawancara
3. Perkiraan koserponden
4. Daftar pertanyaan

 

Bila kita tarik kesimpulan dari beberpa penjabaran diatas makan kita bisa mengatakan bahwa sistem informasi merupakan sistem terbuka yang menghasilkan informasi dengan menggunakan siklus :
Input—Proses—Output
Fungsi dari sistem informasi adalah untuk membantu individu atau kelompok untuk melaksanakan aktivitas yang dapat berupa perencanaan, pengorganisasian, pengontrolan dan pengambilan keputusan.

 

PSIKOLOGI

Psikologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu psyche dan logos. Dimana psyche bermakna jiwa, sedangkan logos bermakna ilmu. Dengan kata lain psikologi adalah ilmu tentang jiwa.
Jiwa merupakan suatu kajian yang sifatnya abstrak, namun dalam psikologi hal abstrak ini dapat dipelajari melalui tingkah laku manusia dan hewan yang merupakan objek kajian psikologi. Secara sederhana psikologi dapat pula diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan.
Penggunaan hewan sebagai objek psikologis dikarenakan pada aliran behavioristik seringkali prilaku yang diprediksi akan terjadi pada manusia terlebih dahulu di uji cobakan pada hewan. Banyak diantara percobaan-percobaan pada hewan ini berhasil terjadi pada manusia. Diantaranya percobaan Pavlov dan Skinner.
Sesungguhnya penerapan percobaan-percobaan perilaku tersebut sudah keluar dari esensi dari psikologi itu sendiri, dimana yang seharusnya dikaji adalah kondisi psikis dari manusia bukan sekedar perilaku yang nampak. Oleh karena itu bermunculanlah teori-teori yang menentang aliran behavioristik tersbut, yaitu aliran humanistik. Dimana manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki kesadaran penuh untuk mengembangkan potensi dirinya. Dengan demikian aspek psikis seseorang dapat lebih tergambarkan.
Namun aliran behavioristik tidak sepenuhnya salah karena ada banyak hal yang belum mampu dijelaskan oleh teori lain mengenai perilaku manusia yang muncul akibat dari pengalaman psikis seseorang.

 

SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

 

Sistem informasi psikologi adalah kajian ilmu yang mempelajari hubungan antara ilmu psikologi dalam kaitannya dengan penggunaan dan pengaplikasian komputer dalam bidang psikologi.
Penggunaan sistem informasi dalam psikologi dimungkinkan karena banyak hal dalam dunia psikologi yang masih bisa dikelola dengan sentuhan komputerisasi. Misalnya penggunaan tes psikologi secara virtual, penggunaan teknologi eye-tracking dan yang terbaru adalah teknologi virtual reality yang memungkinkan seseorang untuk mengurangi bahkan menyembuhkan gangguan psikologis seperti ADHD, PTSD dan beragam fobia.

 

sumber :
Bade. (2011). Pengantar sistem informasi.http://ndutagen.blogspot.com/2011/12/pengantar-sistem-informasi.html. Diakses pada tanggal 26 September 2012.
Basuki, H. (2008). Pikologi Umum.Jakarta. Gunadarma.
Grindley, K & John, H. (1982). Menggunakan komputer secara efektif. Jakarta. PT. Pustaka binaman pressindo.
Goble, E.G. (1987). Mazhab ketiga psikologi Abraham Maslow. Yogyakarta. kanisius.
Irwanto. (1989). Psikologi umum panduan mahasiswa. jakarta. Gramedia.
Jogiyanto,M.H. (1989). Pengenalan Komputer. Yogyakarta. Andi Offset.
Kerlinger. (2000). Asas – asas penelitian behavioral. (Edisi ke tiga). Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Marimin, Tanjung., Hendri, Prabowo., dan Haryo. (2006). Sistem informasi manajamen sumber daya manusia. Bogor. Grasindo.
Rathus, S.A. (2007) Psychology concept & connetion. Australia. Thompson.
Retnoningsih, E. (2008). Belajar internet secara mandiri. Semarang. Salemba infotek.
Riyanti D.B.P. S H. Prabowo. (1998) Piskologi umum. Jakarta. Gunadarma.
Sarwono, S.W. (2002).Berkenaan dengan aliran dan tokoh-tokoh psikologi.
Setiawan, A. (2004). Pengantar sistem komputer. Bandung. Informatika Bandung.
Simarmata, J. (2005). Pengenalan teknologi komputer dan informasi. Yogyakarata. Andi.
Sitompul, D. (1994). Pengenalan komputer dan dasar-dasar DOS. Medan. Intermasa.
Walgito, B. (2003). Pengantar psikologi umum. Yogyakarta.Andi.
Walgito, B. (1993). Psikolog sosial. Yogyakata : Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.
Wicaksono, S (2012). Sistem informasi psikologi.http://setowicaksono8.wordpress.com/2012/09/29/sistem-informasi-psikologi/ . tanggal akses 26 September 2012.
Wiramihardja, A. (2005). Pengantar psikologi abnormal. Bandung. PT. Refika Aditama.
Yani, A. (2005). Panduan menjadi teknisi komputer. Tangerang. Agro media Pustaka

 

Setiap manusia dan makhluk hidup di dunia ini memiliki kehidupan masing-masing. Tanpa mengindahkan kodratnya sebagai makhluk hidup, manusia mempunyai cara tersendiri menghadapi kehidupan. Sebelumnya saya berterima kasih kepada ibu Henny Regina selaku dosen mata kuliah Kesehatan Mental yang telah menunjukkan betapa indahnya dan lengkapnya hidup melalui beberapa film dan cuplikan tentang diri sendiri dan orang terdekat kita, yaitu orang tua. Film dan cuplikan itu berisi tentang bagaimana seorang yang dikaruniai fisik yang kurang mampu berusaha dengan kerasnya menjalani rutinitas kehidupan orang normal lainnya. Bila kita lihat dan kita rasakan seseorang yang mempunyai fisik kurang sempurna, baik mental ataupun fisik pasti akan sangat drop dan down dalam menjalani kehidupan. Tetapi tidak untuk seorang yang berada di cuplikan tersebut. Ia tidak ingin menghabiskan hidupnya hanya untuk meminta belas kasihan orang lain. Demi mencari sesuap nasi, ia rela bekerja menjadi supir bajaj walaupun ia menderita tuna daksa. Sedangkan dalam cuplikan lain, memperlihatkan bahwa seorang nenek berusia 74 tahun mengikuti suatu acara pencarian bakat hingga ketika beliau memasuki ruang audisi, para dewan juri menganggap remeh nenek tersebut. Dan tanpa disangka-sangka, suaranya yang indah merdu membahana di dalam ruang audisi dan yang saya rasakan ketika melihat cuplikan tersebut seperti sedang menonton sebuah orchestra dengan penyanyi opera yang suaranya dapat membuat semua penonton menjadi merinding karena kemerduan suaranya. Sungguh indah sekali Tuhan memberikan potensi kepada orang yang tidak disangka-sangka. Kemudian ada lagi cuplikan teks tentang sepucuk surat dari orang tua kita. Di cuplikan tersebut diperlihatkan bahwa ketika para orang tua kita sudah beranjak tua, hendaknya kita jangan pernah sekalipun mengeluh untuk merawatnya, karena orang tua kita merawat kita dari kecil hingga dewasa tidak pernah merasa capek dan mengeluh. Sungguh kita merasa bersalah sekali kepada orang tua kita ketika kita membentak dan berteriak dengan kencangnya kepada orang tua kita. Dan saya merasakan bahwa betapa bodohnya saya telah melakukan banyak kesalahan kepada orang tua saya. Andai waktu dapat kita putar dan andai di dunia ini ada mesin waktu, saya ingin kembali ke masa lalu ketika saya masih kecil dan saya akan benar-benar menghargai dan menghormati orang tua saya. Hanya ini lah sepenggal kisah yang saya dapatkan karena saya tidak tahu lagi harus menulis apa karena perasaan saya kepada orang tua saya tidak bias diungkapkan dengan kata-kata. Sekian.

Soe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit —seorang novelis— dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djie yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman. Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta.
Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Menurut seseorang peneliti, sejak masih Sekolah Dasar (SD), Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya sastra yang serius, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin karena Ayahnya juga seorang penulis, sehingga tak heran jika dia begitu dekat dengan sastra.
Sesudah lulus SD, kakak beradik itu memilih sekolah yang berbeda, Hok Djin (Arief Budiman) memilih masuk Kanisius, sementara Soe Hok Gie memilih sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Strada di daerah Gambir. Konon, ketika duduk di bangku ini, ia mendapatkan salinan kumpulan cerpen Pramoedya: “Cerita dari Blora” —bukankah cerpen Pram termasuk langka pada saat itu? Pada waktu kelas dua di sekolah menangah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Tapi apa reaksi Soe Hok Gie? Ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah dari pada harus duduk lebih lama di bangku sekolah. Sebuah sekolah Kristen Protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang.
Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengan Atas (SMA) Kanisius jurusan sastra. Sedang kakaknya, Hok Djin, juga melanjutkan di sekolah yang sama, tetapi lain jurusan, yakni ilmu alam.
Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus dia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadaran berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan perjalanannya yang menarik itu; tulisan yang tajam dan penuh kritik.
Ada hal baik yang diukurnya selama menempuh pendidikan di SMA, Soe Hok Gie dan sang kakak berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemuidan kakak beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah , sedangkan Hok Djin masuk ke fakultas psikologi.
Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru. Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya. Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.
Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.
Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.
24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.
Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie: “Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”
“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”
Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.

Daftar Pustaka :
Gie, S.H. : Catatan Seorang Demonstran. Jakarta: LP3ES, 2008.
Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti & Nessy Luntungan (Editor) : Soe Hok-Gie…Sekali Lagi: Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya. Penerbit Gramedia, Jakarta, 2009.

PERILAKU SEKSUAL REMAJA

Posted: April 7, 2012 in Uncategorized

Remaja merupakan suatu massa peralihan antara kanak-kanak dan dewasa. Pada masa ini, libido atau energi seksual menjadi hidup yang tadinya laten pada massa pra remaja. Akibat dari perubahan ini maka dorongan pada remaja untuk berprilaku seksual bertambah besar. Akibat dari perubahan ini maka adanya dorongan pada masa remaja untuk berprilaku seksual bertambah. Seksual merupakan bagain dari kehidupan manusia, baik pria maupun perempuan. Seperti tubuh dan jiwa yang berkembang, seksualitas juga berkembang sejak masa kanak-kanak, remaja, sampai dewasa. Seksualitas diekpresikan dalam bentuk perilaku seksual, yang dialaminya mencakup fungsi seksual.
Pada umumnya masa remaja merupakan perilaku yang selalu ingin mencoba-coa, hal yang baru ini membawa remaja masuk pada hubungan seks pranikah (premarital seksual) dengan segala akibatnya. Kurangnya pengetahuan tentang agama juga dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang, karena ketidaktahuannya tentang norma-norma agama dapat menjerumuskan seseorang kedalam kemaksiatan. Dari faktor ekonomi juga dapat mempengaruhi perilaku seksual seseorang tidak sedikit para remaja yang merelakan ke virginitasannya hanya merasa kurangnya ekonomi, yang menjerumuskan mereka untuk menjual diri. Dari lingkungan dan pergaulan remaja juga dapat berpengaruh.
Pada era globalisasi sekarang ini remaja dihadapkan pada dilemma dua hal, yaitu disatu sisi mereka sangat diharapkan sebagai generasi penerus bangsa, tetapi di sisi lain mereka dihadapkan pada masalah rawannya pergaulan akibat dari arus globalisasi itu sendiri. Oleh karena itu peran serta berbagai pihak sangat diperlukan untuk menjadikan remaja generasi yang bertanggung jawab dan bermoral baik. Sehingga pada akhirnya mereka tidak akan salah langkah dalam bertindak, khususnya dalam berprilaku seksual. Masalah remaja merupakan transisi yang unik dan ditandai oleh berbagai perubahan fisik, emosi dan psikis. Masa remaja berlangsung antara usia 10-19 tahun dan merupakan masa yang khusus dan penting, karena merupakan periode pematangan organ refroduksi manusia dan sering juga disebut masa pubertas. Masa remaja merupakan periode peralihan dari masa anak ke masa remaja. Definisi agak berbeda dikemukakan oleh menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia), usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun. Namun jika pada usia remaja seseorang sudah menikah, maka ia tergolong dalam dewasa atau bukan lagi remaja. Sebaliknya, jika usia sudah bukan lagi remaja tetapi masih tergantung pada orang tua (tidak mandiri), maka dimasukan kedalam kelompok remaja. Setiap manusia khususnya remaja mempunyai dan merasakan adanya dorongan seksual atau yang lebih populer disebut sebagai gairah seksual. Dorongan seksual adalah suatu aktivitas seksual sampai kepada hubungan seksual.
Dorongan seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:
1. Hormon seks, khususnya testoteron. Peranan hormon ini muali aktif pada masa remaja.
2. Rangsangan seksual yang diterima.
3. Keadaan kesehatan tubuh secara umum.
4. Faktor psikososial.
5. Pengalaman seksual sebelumnya. Orang yang mempunyai pengalaman yang jauh/luas tentang bagaimana hubungan seksual, apalagi dengan sekarang adanya lat kontrasepsi yang dapat mencegah terjadinya pembuahan/kehamilan.
6. Perilaku ingin mencoba-coba. Remaja cenderung lebih ingin mencoba-coba hal-hal yang baru dan menantang. Apalagi yang berbau seksual.
7. takut dianggap cemen sama teman yang lain, apabila menolak untuk melakukan hubungan seksual.
Masalah remaja merupakan transisi yang unik dan ditandai oleh berbagai perubahan fisik, emosi dan psikis. Masa remaja berlangsung antara usia 10-19 tahun dan merupakan masa yang khusus dan penting, karena merupakan periode pematangan organ refroduksi manusia dan sering juga disebut masa pubertas. Masa remaja merupakan periode peralihan dari masa anak ke masa remaja. Sering remaja malah terjebak dengan mitos-mitos seputar permasalahan seks. Tidak sedikit diantara mereka yang bertanya pada teman sebaya tentang perubahan fisik yang dialami. Dan tidak sedikit pula diantaranya yang terjebak informasi salah, sehingga perilaku menyimpang dari remaja yang diakibat pesatnya perkembangan informasi saat ini dan ditambah keingintahuan remaja tentang masalah seks yang begitu besar sering mengakibatkan remaja mengalami perubahan pola pikir. Perubahan itu mempengaruhi cara pandang remaja terhadap seksualitas dan membentuk prilaku seksual tersendiri. Sehingga dapat menyebabkan dampak terhadap kesehatan reproduksi seperti kehamilan tidak diharapkan yang akan mengakibatkan aborsi yang tidak aman, angka kelahiran tidak sah dan timbulnya penyakit kelamin kian meningkat.

KEPRIBADIAN SEHAT

Posted: Maret 24, 2012 in Uncategorized

Kepribadian yang sehat merupakan suatu dambaan setiap manusia. Mulai dari anak-anak hingga orang tua, mereka ingin sehat bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara lahiriah. Para ahli psikologi menjabarkan dan mencetuskan teori yang berbeda-beda tentang pribadi sehat. Gordon Allport (1897-1967) mengemukakan bahwa orang yang matang itu merupakan salah satu ciri kepribadian sehat. Ia tidak percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat dikontrol dan dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tak sadar. Kepribadian yang matang juga tidak dikontrol oleh trauma-trauma dan konflik-konflik masa kanak-kanak. Ada beberapa kriteria kepribadian yang matang menurut Allport, yaitu : 1.) Perluasan perasaan diri, 2.) Hubungan diri yang hangat dengan orang-orang lain, 3.) Keamanan emosional, 4.) Persepsi realistis, 5.) Keterampilan-keterampilan dan tugas-tugas, 6.) Pemahaman diri, 7.) Filsafat hidup yang mempersatukan. Berbeda dengan Allport, Carl Rogers mengatakan bahwa ciri kepribadian sehat adalah orang yang berfungsi sepenuhnya. Apabila orang-orang bertanggung jawab terhadap kepribadian mereka sendiri dan mampu memperbaikinya, maka mereka harus menjadi makhluk yang sadar dan rasional. Manusia yang sadar dan rasional, tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak. Berikut ini beberapa sifat orang yang berfungsi sepenuhnya : 1.) Keterbukaan pada pengalaman, 2.) Kehidupan eksistensial, 3.) Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri, 4.) Perasaan bebas, 5.) Kreativitas. Apabila kita percaya kepada ahli-ahli psikologi pertumbuhan (dan mungkin pribadi kita sendiri), kita sependapat bahwa mungkin saja memiliki semua segi kehidupan yang berfungsi secara memuaskan, namun masih menderita kebosanan yang menyiksa, stagnasi, keputusasaan, tak berarti. Bahkan dalam menghadapi kondisi-kondisi yang tampaknya ideal, kita dapat merasakan sesuatu kehampaan yang menjemukandalam kehidupan kita, seolah-olah kehilangan suatu yang penting, walaupun demikian kita tidak dapat mengenal apa yang salah. Kita dapat hidup senang, memiliki suatu pekerjaan yang terjamin dan suatu keluarga yang hangat dan penuh kasih, bebas dari kecemasan, walaupun demikian tidak mengenal suatu kegembiraan yang hebat, suatu antusiasme yang meluap-luap, suatu perasaan yang kuat akan dedikasi atau komitmen.

DAFTAR PUSTAKA
Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Cetakan ke-15. Kanisius. Yogyakarta

SEJARAH KESEHATAN MENTAL

Posted: Maret 23, 2012 in Uncategorized

Sejarah kesehatan mental tidaklah sejelas sejarah ilmu kedokteran. Terutama masalah mental bukan masalah fisik yang dapat dengan mudah diamati dan terlihat. Terlebih lagi bila sudah terbiasa dengan tingkah laku sehari-hari seperti kerabat atau keluarga, gangguan mental sudah dianggap sebagai hal yang biasa, bukan sebagai suatu hal yang bersifat mengganggu.
Di Indonesia gangguan mental masih kurang terfokus dan diperhatikan. Terlebih lagi dengan tingkat pendidikan yang rendah, masyarakat Indonesia masih menganggap gangguan mental tersebut sering dikaitkan dengan kemistisan. Berikut ini adalah sejarah perkembangan kesehatan mental terutama di negara Amerika dan Eropa.
• Tahun 1600 dan sebelumnya
Pada masa ini, seringkali masyarakat mengira gangguan mental diakibatkan oleh roh-roh dekat lingkungannya, serta seringkali menjadi mediasi antara manusia dengan roh-roh yang ingin menyampaikan maksudnya. Oleh karena itu, sering kali mereka dianggap tidak sakit sehingga mereka tidak disingkirkan dan masih mendapat tempat di masyarakat.
• Tahun 1692
Di Amerika, pengaruh imigran dari Eropa yang beragama Nasrani, sering dianggap sebagai terkena sihir atau guna-guna dari setan yang masuk ke dalam tubuhnya. Maka dari itu masyarakat takut dan membenci mereka yang mempunyai kekuatan sihir. John Locke (dalam Siswanto, 1997) menyatakan bahwa terdapat derajat kegilaan dalam diri setiap orang yang disebabkan oleh emosi yang memaksa orang untuk memunculkan ide-ide salah dan tidak masuk akal secara terus menerus. Pandangan John Locke ini bertahan di Eropa sampai abad ke- 18.
• Tahun 1724
Pendeta Cotton Mather (1663-1728) mematahkan takhayul yang ada di masyarakat dengan memajukan penjelasan secara fisik tentang sakit jiwa itu sendiri. Pada saat ini, pendekatan secara medis mulai diperkenalkan dengan memberikan penjelasan masalah kejiwaan sebagai akibat gangguan yang terjadi di tubuh.
• Tahun 1812
Tahun 1830-1860 di Inggris muncul optimisme dalam menangani pasien sakit jiwa dikarenakan berkembangnya teori dan teknik dalam menangani orang sakit jiwa. Tahun 1842 psikiater mulai muncul dan mendapat peran penting di rumah sakit menggantikan peran ahli hukum yang berperan menangani sakit jiwa pada waktu itu. Namun karena banyak mengalami kegagalan, maka muncul masa terapi pesimisme (therapeutic pesimism) dan dipengaruhi oleh pernyataan Darwin yang menyatakan bahwa gangguan mental adalah perkembangan evolusi sehingga merupakan bawaan dan tidak mungkin diubah lagi.
• Tahun 1843
Hanya ada 24 rumah sakit dan 2.561 tempat tidur untuk menangani masalah penyakit mental di Amerika Serikat.
• Tahun 1908
Pada tahun ini, diterapkan sikap asosiasi dengan tujuan yaitu memperbaiki sikap masyarakat terhadap penyakit mental dan penderita sakit mental, memperbaiki pelayanan terhadap penderita sakit mental, bekerja untuk pencegahan penyakit mental dan mempromosikan kesehatan mental.
• Tahun 1909
Sigmund Freud mengunjungi Amerika dan mengajar psikoanalisa di Universitas Clark di Worcester, Massachusetts.
• Tahun 1910
Emil Kraeplin pertama kali menggambarkan penyakit Alzheimer dan dia juga mengembangkan alat tes yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya gangguan epilepsi.
• Tahun 1918
Asosiasi Psikoanalisa Amerika membuat aturan bahwa orang yang telah lulus dari sekolah kedokteran dan menjalankan praktek psikiatri yang dapat menjadi calon untuk pelatihan psikoanalisa.
• Tahun 1920-an
Komite Nasional untuk Mental Higiene menghasilkan satu set model undang-undang komitmen yang dimasukkan ke dalam atura pada beberapa Negara bagian. Komite juga membantu penelitian-penelitian yang berpengaruh pada kesehatan mental, penyakit mental, dan treatmen yang membawa perubahan nyata pada system perawatan kesehatan mental.
• Tahun 1930-an
Psikiater mulai menginjeksikan insulin yang menyebabkan shock dan koma sementara sebagai suatu treatmen untuk penderita schizophrenia.
• Tahun 1936
Agas Moniz mempublikasikan suatu laporan mengenai labotomi frontal manusia yang pertama. Akibatnya pada tahun 1936 sampai pertengahan 1950-an, diperkirakan 20.000 prosedur pembedahan ini di gunakan pada pasien mental Amerika.
• Tahun 1940-an
Elektroterapi, yaitu terapi dengan cara mengaplikasikan listrik ke otak. Pertama kali di gunakan di rumah sakit Amerika untuk menangani penyakit mental. Pada tahun 1940-1950 dimulainya perawatan masyarakat bagi penderita gangguan mental di Inggris.
• Tahun 1947
Fountain House di New York City memulai rehabilitasi psikiatrik orang yang mengalami sakit mental.
• Tahun 1950
Dibentuk National Association of Mental Health (NAMH) yang merupakan merger dari tiga organisasi, yaitu National Committee for Mental Hygiene, National Mental Health Foundation, dan Psychiatric foundation.
• Tahun 1952
Obat antipsikotik konvensional pertama, yaitu chlorpromazine, diperkenakan untuk menangani pasien schizophrenia dan gangguan mental utama lainnya.
• Tahun 1960-an
Media inggris mulai mengungkapkan kesehatan mental dengan menampilkan orang-orang yang pernah mengalami sakit mental untuk menceritakan pengalaman mereka. Pada masa ini segala hal yang tabu berkaitan dengan gangguan mental mulai dibuka dan dibicarakan secara umum.
• Tahun 1961
Thomas Szasz membuat tulisan yang berjudul The Myth of Mental Illness, yang mengemukakan dasar teori yang menyatakan bahwa “sakit mental” sebenarnya tidaklah betul-betul “sakit”, tetapi merupakan tindakan orang yang secara mental tertekan karena harus bereaksi terhadap lingkungan.
• Tahun 1962
Ada 422.000 orang yang tinggal di rumah sakit untuk perawatan psikiatris di Amerika Serikat.
• Tahun 1970
Mulainya deinstitusional massal. Pasien dan keluarga mereka kembali pada sumber-sumber mereka sendiri sebagai akibat kurangnya program-program bagi pasien yang yang telah keluar dari rumah sakit untuk rehabilitasi dan reintegrasi kembali ke masyarakat.
• Tahun 1979
NAMH menjadi the National Mental Health Association (NMHA).
• Tahun 1980
Munculnya perawatan yang terencana, yaitu dengan opname di rumah sakit dalam jangka waktu yang pendek dan treatmen masyarakat menjadi standar bagi perawatan penyakit mental.
• Tahun 1990
NMHA memainkan peran penting dalam memunculkan Disabilities Act, yang melindungi warga Amerika yang secara mental dan fisik disable dari diskriminasi di beberapa wilayah, seperti pekerjaan, akomodasi public, transportasi, telekomunikasi, dan pelayanan pemerintah pusat dan local. Sementara itu, teknologi menggambarkan otak digunakan untuk mempelajari perkembangan penyakit mental utama dengan lebih baik lagi.
• Tahun 1994
Obat antipsikotik atipikal yang bpertama diperkenalkan. Ini merupakan obat antipsikotik baru pertama setelah hampir 20 tahun penggunaan obat-obatan konvensional.
• Tahun 1997
Peneliti menemukan kaitan genetic pada gangguan bipolar yang menunjukkan bahwa penyakit ini diturunkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Siswanto. 2007. kesehatan mental, yogyakarta:andi yogyakarta,

Sarwono, Sarlito. 2010.pengantar psikologi umum, jakarta:rajawali pers

Pengertian Kesehatan
Arti dari sehat itu beragam macam jenisnya bila dilihat dari segi profesi masing-masing. Bila orang awam atau orang yang berprofesi di bidang kesehatan berpendapat bahwa sehat itu lebih terfokus kepada fisik dan jasmani seseorang, lain halnya dengan seorang yang berkecimpung di bidang psikologi. Orang yang terjun masuk ke dalam dunia psikologi berpendapat bahwa sehat itu tidak hanya dari jasmani atau fisik saja, melainkan rohani atau jiwanya juga harus sehat.
Pada dasarnya sehat itu bisa didefinisikan secara sederhana yakni, suatu keadaan yang tidak mempunyai penyakit. Freund (1991) mengutip the International Dictionary of Medicine and Biology dalam buku Kesehatan Mental: Konsep, Cakupan, dan Perkembangannya (Siswanto, 1997) mendefinisikan kesehatan sebagai “suatu kondisi yang dalam keadaan baik dari suatu organisme atau bagiannya, yang dicirikan oleh fungsi yang normal dan tidak adanya penyakit”. Bila memahami apa arti sehat di atas jelas sudah bahwa sehat itu umumnya masih berfokus pada masalah jasmani atau fisik dan bertitik tolak terhadap maslaah ada atau tidaknya masalah penyakit. Namun WHO mendefinisikan kesehatan sebagai “… keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani) dan sosial, dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan …” (Smet,1994). Pengertian tersebut menyebabkan pandangan terhadap kesehatan yang terfokus kepada fisik menjadi luntur dan mengalami banyak perubahan. Dengan menyebutkan keadaan sehat itu juga mencakup secara mental (rohani) dan sosial, maka sehat itu harus dilihat hingga lebih mendalam lagi agar kita tahu bahwa mental (rohani) dan sosial mempengaruhi kesehatan.
Konsep Sehat
Konsep sehat itu sendiri bisa kita lihat dari 2 aspek, yaitu sehat secara fisik dan mental. Secara fisik, sehat itu bisa kita pahami dan kita lihat bahwa tidak ada penyakit dan secara klinis menyatakan bahwa fisik kita tidak mengidap suatu penyakit apapun. Fisik yang sehat juga tidak pernah mengalami mengalami gangguan fungsi dalam maupun luar tubuh dan semua organ tubuh bisa berfungsi dengan normal, tidak ada suatu kecacatan apapun. Bila semua konsep itu telah kita penuhi dan ada di dalam fisik kita, maka sudah dianggap sehat dilihat dari fisik. Bila dari segi mental, sehat itu berarti pikiran, emosional, dan spiritual kita tidak terganggu. Dapat berpikir secara logis dan berakal itu merupakan salah satu ciri dari pikiran yang sehat. Menurut Davidoff (dalam Riyanti Dwi,dkk. 1996) gambaran mental seseorang memegang peranan penting bagi pikirannya. Sehingga bila mental seseorang sedang dalam kondisi kurang sehat, pikirannya akan mudah terganggu dan tidak dapat berpikir secara logis. Sehat secara spiritual berarti mampu mengekspresikan rasa syukur, pujian dan penyembahannya terhadap Yang Maha Kuasa, yang dapat dilihat dari praktik keagamaannya. Sedangkan dari segi emosional, tercermin dari kemampuan seseorang mengekspresikan emosinya dan mampu mengendalikannya dengan baik.
Hal yang berkaitan dengan sehat dapat dilihat dari dimensi suatu reliabilitas dari konsep sehat tersebut. Jasmani merupakan pernak-pernik yang berkaitan dengan sehat dan mempunyai suatu timbal balik dengan mental yang sehat. Bila jasmani kita berada dalam keadaan kurang, maka itu akan berpengaruh terhadap mental sehingga mental pun akan ikut menurun karenanya. Sebaliknya, bila jasmani kita berada dalam keadaan sehat dan kuat maka mental juga ikut sehat. Kedua hal ini termasuk saling berkaitan. Adapun rohani sebagai salah satu pengikat dan merangkul antara jasmani dan mental. Rohani merupakan salah satu unsur terpenting dalam mencapai kehidupan yang sehat. Emosi merupakan salah satu unsur dinamika dalam kesehatan. Mampu mengendalikan emosi dengan baik dan mengekspresikannya dalam tempat yang tepat merupakan salah satu ciri dari sehat secara mental. Kognitif adalah suatu syarat yang harus dimiliki dalam kesehatan mental. Mampu berpikir secara logis merupakan ciri dari kognitif. Dan yang terakhir berupa spiritual. Spiritual adalah unsur terpenting dalam melakukan hubungan antara kita dengan Yang Maha Kuasa. Pertanggungjawaban kita terhadap Sang Pencipta hendaknya dilakukan secara sempurna ketika jasmani dan mental kita berada dalam keadaan sehat.

DAFTAR PUSTAKA
Prabowo, H., Puspitawati, I., Riyanti, D. B. P. 1996. Psikologi Umum I. Edisi I. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma.
Siswanto, S. 2007. Kesehatan Mental. Yogyakarta: Andi.